Menu

Skenario Buatan: Ferdy Sambo Pukul Tembok dan Menangis Saat Jelaskan Kronologi Kematian Brigadir J

Amastya 22 Nov 2022, 08:37
Ferdy Sambo disebut sempat memukul tembok dan menangis saat ungkapkan kronologi skenario buatannya /MPI
Ferdy Sambo disebut sempat memukul tembok dan menangis saat ungkapkan kronologi skenario buatannya /MPI

RIAU24.COM - Saat kejadian pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo sempat memukul tembok dan menangis menjelaskan peristiwa tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh mantan Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Ridwan Soplanit saat bersaksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan pembunuhan Brigadir J di PN Jakarta Selatan, Senin (21/11/2022).

Ridwan mengungkapkan, awalnya ia diminta untuk ke rumah dinas Sambo usai Brigadir J tewas tertembak.

Saat ia melangkah masuk, Ridwan mengatakan dapat melihat jasad Brigadir J tertelungkup di samping tangga dan langsung disambut Ferdy Sambo.

Kepada Ridwan, Sambo pun menjelaskan kronologi kematian Brigadir J yang dibuatnya sendiri.

"FS menyampaikan bahwa ini tadi saya baru dapat informasi ada tembak-menembak antar anggota saya. Sambil berjalan, tidak berhenti, kemudian sampai di depan akses jalan pintu dapur. Kemudian dia tunjukan, tembak-menembak yang satu di atas tangga, yang satu di depan pintu kamar," tutur Ridwan menjelaskan kepada majelis hakim.

Mendapat penjelasan itu, Ridwan pun tak menanyakan apa pun kepada Sambo. Ia hanya fokus menyimak kronologi yang dibuat Sambo. Sambil melanjutkan jalan mengitari ruang tengah rumah dinasnya, Sambo pun menerangkan kejadian penembakan dipicu lantara perbuatan Brigadir J yang melecehkan istrinya, Putri Candrawathi.

"Kemudian saat dia menerangkan, dia menepok tembok agak keras, karena saya pas berdiri di depan pintu kamar itu dia tepok tembok agak keras. Saya sempat kaget juga yang mulia, karena lagi mengalir menceritakan, kemudian menepok tembok," tutur Ridwan.

"Kemudian kepalanya itu nunduk ke tembok, kemudian dia melihat saya dan menggeleng-gelengkan kepala, matanya agak berkaca-kaca, terus dia bilang 'kejadian ini sebelumnya terjadi di Magelang. ' Kemudian saya sampaikan 'mohon izin saya harus melaporkan ke atasan saya ke Kapolres, dan minta petunjuk karena harus melakukan olah TKP," tandasnya.

(***)