Menu

Pakar Menyebutkan Rasisme di Eropa Diartikan Sebagai Anti-Muslimisme 

Zuratul 24 Jan 2023, 10:14
Potret Protes Warga Eropa Terhadap Penggunaan Cadar Umat Muslim. (CNN Indonesia/Foto)
Potret Protes Warga Eropa Terhadap Penggunaan Cadar Umat Muslim. (CNN Indonesia/Foto)

RIAU24.COM - Seorang pakar terkemuka Swedia, Masoud Kamali mengatakan, Islamofobia atau gerakan anti-Islam telah berkembang di Eropa sejak Perang Salib. 

Pengaruh dan mentalitas Perang Salib dapat terlihat pada saat pertanyaan diajukan terkait Turki menjadi anggota Uni Eropa.

Kamali mengatakan, aspek utama rasisme di Eropa saat ini pada dasarnya diterjemahkan menjadi "anti-Muslimisme". Ini sebuah istilah yang digunakan Kamali untuk Islamofobia.

"Mengizinkan pembakaran kitab suci umat Islam di depan kedutaan dan menghina Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berkaitan dengan anti-Muslimisme yang telah lazim di Swedia dan Eropa secara keseluruhan sejak Perang Salib," ujar Kamali, dilaporkan Anadolu Agency, Senin (23/1/2023).

Kamali mengatakan, anti-Muslim selalu menjadi bagian dari kebijakan negara-negara Eropa, termasuk Swedia. 

Menurutnya, penentangan negara-negara Nordik dan negara-negara Eropa lainnya terhadap keanggotaan Uni Eropa dipengaruhi oleh fakta bahwa Turki adalah negara Muslim.

Halaman: 12Lihat Semua