Menu

Ahli Gizi UGM: Batasi Anak Konsumsi Makanan Manis, Cegah Diabetes dan Obesitas 

Zuratul 7 Feb 2023, 10:31
Ilustrasi (Twitter)
Ilustrasi (Twitter)

RIAU24.COM 

Ahli Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Lastdes Cristiany Friday Sihombing, SGz, MPH menyarankan untuk mencegah diabetes perlu dilakukan pembatasan konsumsi makanan manis kepada anak. 

Selain itu, juga mendorong anak agar memperbanyak aktivitas fisik atau olahraga sampai berkeringat.

Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM menyarankan hal tersebut untuk mencegah meningkatnya kasus diabetes pada anak akhir-akhir ini. 

Berdasarkan catatan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) kasus diabetes pada anak meningkat signifikan pada tahun 2023.

Kasus diabetes anak meningkat hingga 70 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2010 lalu. Tahun 2023, ada sebanyak 1.654 anak dan remaja sebagai pasien diabetes dan mereka tersebar di 13 kota Indonesia.

Menurut Lastdes Cristiany, pencegahan diabetes pada anak bisa dilakukan melalui pengaturan pola makan sehat oleh orang tua. Hal tersebut dimulai dari menerapkan pola makan sehat sejak dini yakni di awal pemberian Makanan Pendamping Asi (MPASI). 

“Pencegahan dimulai dari kebiasaan dan penerapan pola makan saat MPASI,” kata Lastdes Cristiany di Yogyakarta, Senin (6/1/2023).

Lebih lanjut Lastdes Cristiany menjelaskan ketika anak memasuki usia enam bulan ke atas diperkenalkan dengan makanan padat termasuk kandungan tambahan pangan seperti gula dan garam. 

Di usia tersebut orang tua diharapkan bisa mengatur pemberian gula dan garam dengan bijak sebatas untuk memperkenalkan kedua rasa tersebut.

“Anak-anak kalau dikenalkan dengan rasa yang signifikan baik asin, manis, maupun gurih akan cenderung ketagihan memilih makanan tersebut sehingga orang tua harus bisa mengatur atau membatasi konsumsi gula garam pada anak. Sebab jika anak sudah terbiasa konsumsi gula maupun garam akan terbawa sampai dewasa dan sulit dihilangkan,” kata Lastdes Cristiany.

Lastdes Cristiyani juga mengimbau orang tua untuk dapat mengedukasi anak dalam memilih jajanan atau snack sehat saat berada di luar rumah atau sekolah. 

Sebab tidak dipungkiri, anak-anak saat ini tumbuh dalam paparan tinggi akan jajanan kekinian yang banyak mengandung gula maupun garam serta kemudahan akses memperoleh berbagai makanan tersebut.

Kata Lastdes Cristiany, anjuran konsumsi gula yang disarankan WHO untuk orang dewasa adalah empat sendok makan per hari. Sedang anak-anak dengan jumlah lebih kecil yakni enam sendok teh per hari.

Anjuran konsumsi garam, tambah Lastdes Cristiany, bagi orang dewasa adalah satu sendok teh per hari. Sedang untuk usia lebih muda atau anak-anak kebutuhan garam per harinya lebih sedikit dari orang dewasa.

Selain mengatur pola makan sehat, kata Lastdes Cristiany, pencegahan diabetes pada anak dapat melalui aktivitas fisik. Anak-anak diperkenalkan dan dibiasakan melakukan aktivitas fisik atau olahraga. 

"Olaharaga tidak hanya bisa mencegah diabetes. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur bisa mendorong pertumbuhan dan metabolisme tubuh anak menjadi lebih baik," katanya.

Berdasarkan Data Indonesian Report Card On Physical Activity for Children & Adolescents 2022 menunjukkan aktivitas jasmani anak-anak di Indonesia termasuk rendah. 

Dalam laporan tersebut disebutkan kurang dari 20 persen jumlah populasi anak-anak yang memenuhi kebutuhan aktivitas jasmani.

“Kondisi pandemi kemarin juga membuat anak-anak tidak banyak melakukan aktivitas luar ruangan dan kurang gerak. Ini mungkin juga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan angka diabetes pada anak di Tanah Air,” katanya.

(***)